About Me

Foto Saya
Rachma Anugerahwati Woerjanto
Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia
私はただ人間だ。
Lihat profil lengkapku
Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Selasa, 23 Juli 2013

N.E.E.T

konbanwa...[karna saya nulisnya malem]
bagi yang baca di pagi hari [ohayou], siang [konnichiwa].. yang baca sambil tidur [oyasumi] *emg tidur bs baca??*

hmm, kira-kira sudah berapa lama ya aku lulus dari smk?? entahlah. yang jelas sekarang aku NEET. ada enak dan gak enaknya. btw, NEET itu Not in Education, Employment or Training. dengan kata lain gue pengangguran. PENGANGGURAN. biar puas bacanya jadi gue capslock.

pertama aku bakal cerita soal enaknya. kenapa enak? karna bagi saya, saya bisa tidur sampe siang hari. sampe matahari ketawa-tawa di atas penderitaan orang-orang yang kepanasan. sedangkan saya, saya di dalam kamar, tidur nyenyak.

gak enaknya. GAK ENAKNYA adalah lama-lama gue bosen juga di dalem kamar [rumah] dan gak ada kegiatan selain makan, mandi, tidur, main game, online.. dan hanya itu saja.. [baca : repeat}

nah loh, sekarang bingung mau nulis apaan?! O.o
yaudah deh, gini aja..
Jumat, 19 Juli 2013

Fanfiction SaeYuki -Kencan Sehari-

Ini merupakan fan fiction pertama yang aku buat :3 entah ini jelek, atau gimana.. [kurang pede]

semoga yang gak sengaja ke blog saya, dan membaca postingan ini dapat memberikan komentarnya *bow* jujur, gue newbie dalam hal menulis FF..

pertama, ini merupakan FF tentang kedua member AKB48, Kashiwagi Yuki dan Miyazawa Sae..
kenapa? karena saya memuja pairing yang satu ini *sembah*
otomatis, ini fanfiction yuri yaa... alias lesbi -3- yang gak minat, silakan meninggalkan blog saya..

yaudah, dari pada banyak tulisan gak jelas, langsung aja deh..


----------------------------------------------------------------

Kencan Sehari

Pagi yang cerah menyambut diriku hari ini. Setelah sekian lama, akhirnya aku memiliki hari libur. Meskipun hanya sehari, aku sudah sangat bersyukur. Dan tadi malam, aku menghubungi seseorang untuk memberitahunya bahwa aku ada hari kosong. Dan dia juga terdengar senang di ujung teleponnya.

Aku berjalan menuju tempat kita janjian. Sepertinya aku terlambat 5 menit. Karena aku bingung mau mengenakan pakaian yang mana. Aku merasa ini seperti kencan. Dan ini benar-benar membuatku gugup. Aku memutuskan untuk mengenakan gaun putih lengan pendek. Gaunnya tidak terlalu panjang, kira-kira 20 senti di atas lutut. Kemudian rompi coklat dan sepatu bot coklat tinggi yang hampir menutupi lututku. Aku pun berangkat.

Setibanya di lokasi yang kita tentukan, aku melihatnya berdiri dekat dengan jam kota. Aku melihatnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tentu saja dari kejauhan. Rambut pendek, kemeja ungu, jaket hitam yang kedua lengannya di linting hingga siku, celana jeans biru casual dan sepatu kets putih dengan corak coklat. Astaga, bahkan warna sepatu kita hampir sama.

Jujur saja, aku tak bisa menyembunyikan senyum bahagia yang terlihat jelas di wajahku. Aku menghampirinya, berniat untuk mengagetkannya. Aku berhenti sejenak, mengeluarkan telepon genggamku, aku mulai mengetik pesan, "tunggu di bawah pohon saja agar kamu tidak kepanasan, aku agak terlambat". Kirim. Telepon genggam aku masukkan lagi ke dalam tas jinjing. Dan aku melihat ke arahnya. Dia mengeluarkan teleponnya, tersenyum, kemudian ekspresinya berubah, dia cemberut. Aku terkikik melihat ekspresinya meskipun dari kejauhan. Sebenarnya hanya tinggal beberapa meter saja. Tapi dia tak menyadari keberadaanku.

Dia beranjak menuju pepohonan. Kebetulan ada bangku kosong di bawah salah satu pohon di sekitar sana. Aku masih memperhatikannya dari kejauhan. Tersenyum. Tak sabar ingin segera memeluknya. Dia duduk, melihat jam tangannya, mengeluarkan nafas berat, kemudian bersandar dengan kepala mendongak. Aku mulai kasihan melihatnya seperti orang frustasi. Aku melangkah, mendekatinya. Tapi aku tidak berniat muncul di hadapannya. Aku melangkah, memutarinya. Aku melihat wajahnya yang mendongak dengan matanya yang terpejam. Lucu sekali wajahnya saat ia sedang memejamkan mata, pikirku. Aku mendekatinya, kemudian entah apa yang aku pikirkan, aku menciumnya di muka umum. Tepat di bibirnya. Untung saja bangku ini berada di bawah pohon dan kebetulan menghadap ke dalam, bukan arah pejalan kaki. Jadi kemungkinan tidak ada yang melihat.

Gadis yang berada di hadapanku terkejut dan membuka matanya. Aku tersenyum, segera kutarik kepalaku sebelum kepala kita bertabrakan dan mengitari bangku untuk duduk disebelahnya. "Yukirin, apa yang kau lakukan? Kita sedang ada di publik". Wajahnya terlihat khawatir, kaget seperti melihat hantu. Aku tersenyum, "tenang saja, bangku yang kau pilih sedikit tersembunyi" sambil aku lontarkan wink mautku. Dia tersenyum kikuk dan menoleh ke arahku. "maaf aku terlambat. Sebenarnya aku tadi berada di dekat sana. Aku hanya ingin menggodamu" ujarku. Dia hanya manyun kemudian tersenyum lagi, "baiklah, karena kau sudah sampai disini, kita mau kemana? Kau kan tidak memberitahu saat telpon semalam". Aku memang tidak memberitahunya, karena aku sendiri juga tidak tahu mau pergi kemana. Aku hanya ingin menghabiskan waktuku bersamanya.

"hmm, sae-chan", ya gadis di depanku ini bernama Miyazawa Sae, dan aku, Kashiwagi Yuki. Kita berdua menjadi member AKB48, salah satu idol grup di Jepang. Meskipun kita beda generasi dan tim, tapi kita sering keluar bersama. Apalagi setelah menjadi pemeran utama dalam Drama Musikal Kagekidan Infinity. "sebenarnya aku tidak tahu ingin pergi kemana. Apa kau ada saran?". Dia terlihat bingung dan wajahnya berubah menjadi serius, sepertinya dia memikirkan tempat yang tepat untuk dikunjungi. Kemudian aku teringat bahwa aku sedang tidak ingin kemanapun. Aku malas berjalan jauh apalagi bermain. Aku hanya ingin berdua. Dengan tiba-tiba aku berdiri, dan menarik lengan Sae-chan. Dia terkejut, "hey, kita mau kemana? Kau sudah memutuskannya? Yukirin.."

Aku tak menjawabnya, hanya memikirkan tempat yang akan aku tuju. Apakah ini pilihan yang tepat? Aku bahkan tak meminta pendapatnya. Setelah berjalan 10 menit sambil menggandeng tangan Sae, kita tiba di depan salah satu hotel. Atau motel? Entahlah, tak ada waktu untuk memikirnya. Aku menariknya untuk ikut masuk dan segera menuju meja resepsionis. Dia melepaskan genggaman tanganku. Wajahnya terlihat horror, "apa yang kau lakukan yukirin? Kenapa kita menuju kemari? Bukankah kau ingin pergi, jalan-jalan?". Aku mendekatinya, tanpa banyak bicara, aku melingkarkan lenganku dilehernya, kupejamkan mataku dan mulai mencium bibirnya. Entah apa yang merasuki diriku hari ini. Aku benar-benar hanya ingin berdua dengannya. Bahkan aku melupakan bahwa aku, kita berada di depan publik. Tiba-tiba Sae mendorongku. Aku terkejut, di sisi lain aku juga bersyukur karena dia menghentikanku sebelum aku lepas kendali dimuka umum. Wajahnya benar-benar menjadi murung. Bahkan dia tak membalas ciumanku. Mungkin dia kecewa karena aku tidak jadi mengajaknya jalan-jalan, malah mengajaknya ke tempat seperti ini.

Aku berbalik dan masuk ke dalam. Di resepsionis, aku memesan 1 kamar dengan kasur berukuran King Size dan lengkap dengan sofa, tv, dapur, dan kamar mandi. Setelah kunci berada di tanganku, aku menoleh keluar, Sae masih berada di luar. Sepertinya dia sedang menimbang-nimbang pikirannya. Aku keluar, dan segera kutarik tangannya. Dia terkejut. Masih tidak percaya dengan keputusanku. Akhirnya dia mengikutiku. Dan aku belum juga mengatakan alasanku melakukan hal ini. Saat aku menggandengnya, dia melepaskan genggaman tanganku. Sempat aku menoleh dengan ekspresi kaget, kecewa, tapi ini memang salahku. Aku egois. Aku tetap berjalan menuju ruang kamar dengan nomor yang tertera di kunci.

Setelah tiba di depan pintu kamar, aku membukanya. Aku melangkah masuk, melihat isi ruangan, "sempurna". Sae terkejut mendengarku. "yuki, apa maumu? Kau bilang kau sedang libur, dan ingin keluar bersama. Tapi kenapa kau memilih tempat seperti ini? Bukankah lebih baik kau bersantai di rumahmu sendiri?" ucapnya yang masih berada di ambang pintu. Aku menoleh, wajahnya terlihat kusut. Kemana Genking yang aku kenal? Aku mendekatinya, memegang kedua tangannya, menuntunnya untuk masuk dan kututup pintu. Klik, pintu ku kunci. Dia melangkah, duduk di sofa dengan menatap kearah televisi. Diam.

Aku masuk ke kamar, merebahkan diri sejenak. Aku berfikir, bagaimana caranya agar dia menikmati hari ini. Selang beberapa menit, aku beranjak dari tempat tidur, ku lihat dia masih duduk di sofa. Tatapannya kosong.

Aku mendekatinya, "Sae-chan.. kau tidak apa-apa?" seraya duduk disampingnya. Ku genggam tangan kanannya, ku cium pipinya. "hey, sae-chan. Apa kau tidak suka menghabiskan waktu bersamaku?". Aku lihat dia mulai tersadar. "ah, yu..ki.. aku senang saat kau menelponku untuk mengajak jalan. Aku juga membatalkan jadwalku untuk hari ini. Tapi kau malah mengajakku untuk bersantai seperti ini". Wajahnya masih terlihat datar.

"maafkan aku, aku tidak tahu jika kau ada jadwal hari ini", aku merasa bersalah karena tidak bertanya padanya. Sungguh, aku egois sekali. Aku akan mengatakan yang sesungguhnya. "Sae, lihat aku!". Dia menoleh, "hmm, apa?". Tanpa basa-basi, aku mendorongnya agar tertidur di sofa. Dengan kata lain, sekarang aku berada di atasnya, meskipun posisinya agak miring, karena dia hanya menoleh. Dia merubah posisi tidurnya, "yuki, hari ini kau kenapa? Menciumku dimuka umum, mengajak kemari, dan sekarang kau memaksaku seperti ini". Terdengar sedikit emosi di nada bicaranya.

Ku dekatkan wajahku, aku tatap matanya, aku benar-benar ingin lepas kendali. Tinggal beberapa senti lagi sebelum bibir kita bertemu, kupejamkan mataku, kemudian kita berciuman. Aku menciumnya dengan lembut, penuh perasaan. Tanganku menelusuri rambutnya yang pendek. Dia membalas ciumanku, tangannya mulai melingkar di pinggangku. Aku senang.

Setelah beberapa menit berlalu, kulepaskan ciumanku, aku butuh udara. Aku duduk di perutnya dengan tanganku berada di samping kepalanya. Wajahku hanya berjarak 10 senti darinya. Kubuka mataku, "aku merindukanmu Sae-chan, aku hanya ingin berdua denganmu. Aku tidak ingin jalan-jalan, atau menghabiskan waktuku di rumah sendirian. Aku hanya ingin bersamamu. Tolong, untuk hari ini saja. Aku tahu ini sangat egois, dan aku juga tahu bahwa kita jarang menghabiskan waktu bersama, karena kita sibuk dengan pekerjaan masing-masing, aku..", belum sempat aku selesai bicara, Sae mengunci mulutku dengan bibirnya.

"aku tahu jika kau ingin berdua denganku. Tapi aku tidak berfikiran akan seperti ini" ucapnya lembut, "Aku hanya kaget, hari ini kau liar sekali", godanya dengan senyum diwajahnya. Dia juga membelai rambutku. Aku bisa merasakan "sayang" dari belaiannya.
"entah kenapa, aku sendiri juga bingung. Mungkin kau memang magnet yang dapat menggoda semua wanita. Apalagi pakaian yang kau kenakan hari ini keren sekali", aku balas menggodanya dengan wink dan kucium bibirnya.

Setelah menciumnya, tiba-tiba dia mendorongku. Sekarang aku yang berada di bawah. Raut wajahnya berubah, Sae-chan terlihat lebih keren. Ah, aku ingin pingsan.

"yuki, maaf tidak meresponmu sejak awal. Aku juga merindukanmu. Sangat merindukanmu. Hari ini, khusus untuk kita berdua. Apa yang kau inginkan, akan aku turuti". Kemudian dia memberikan kecupan di keningku, hidung, kedua pipi, dagu, dan berakhir di bibirku. Lembut sekali. Membuat hatiku tenang. Aku tidak akan menyia-nyiakan hari libur ini.

 -----------------------------------------------------------------

yeeeesss (/^.^)/  sudah selesai.. tamat...
kemampuanku masih sangat rendah.. aku akan mencoba membuat FF yang lebih baik.. mohon reviewnya yaa.. kritik dan komen dari anda semua sangat berarti bagi saya...

baiklah, see you next time ...
Kamis, 18 Juli 2013

Jangan Sembarangan Cubit Pipi Bayi

Meski dilakukan sebagai ekspresi sayang, sikap gemas orang dewasa yang diwujudkan dengan mencubit pipi atau mengelitiki pinggang si kecil, dapat membuat dirinya merasa tak nyaman. Apalagi jika yang melakukan adalah orang yang tak dikenal. Respons anak pun berbeda-beda. Ada yang tertawa "terpaksa" akibat kegelian, ada juga yang melengos tanpa basa-basi. Anak yang dikelitiki tanpa berhenti, meski tertawa-tawa, bisa saja mengalami kesulitan menarik nafas.
Jika orang dewasa kerap mencium, memeluk, mencubit, atau menggelitiki anak, wajar saja kalau anak yang menjadi "korban" sampai menyimpulkan bahwa ciuman atau pelukan tidak lagi menjadi hal yang menyenangkan. Hal itu dianggap bukan wujud rasa sayang, dan tidak memberikan rasa aman. Padahal, orang yang melakukan itu tak bermaksud menyakiti.
Belajar dari pengalaman buruk tersebut, terang saja jika si kecil jadi enggan dicium dan dipeluk oleh kedua orangtuanya. Membuatnya kembali percaya bahwa pelukan dan ciuman merupakan ekspresi kasih sayang bisa makan waktu lama jjika anak terlanjur trauma.

Jadi takut
Trauma akibat "disakiti" membuat anak ketakutan, apalagi jika bertemu kembali dengan orang yang menyakitinya. Boleh jadi, ketika bertemu kembali, ia menunjukkan reaksi tegang dengan memegang erat ibu atau ayahnya, menyembunyikan wajah, tampak gelisah, bahkan akhirnya menangis. Ekspresi itu menunjukkan ia merasa tidak aman dan nyaman. Terhadap orang asing yang mencoba bersikap akrab, tentunya ia akan jaga jarak dulu dan bersiap-siap kalau-kalau ia diperlakukan sama seperti pengalaman sebelumnya. Padahal, orang tersebut mungkin tidak berniat untuk mencubit pipi, menggelitiki, memeluk, atau menciumnya, tetapi hanya ingin tahu nama dan menyapa, misalnya.
Faktor emosi si batita pun bisa menjadi tidak stabil karena suasana nyaman yang awalnya terbangun, terpecahkan oleh "perilaku" orang lain yang secara tak sadar justru membuatnya tak nyaman. Ujung-ujungnya hal ini bisa mengganggu kemauannya untuk bereksplorasi, berinteraksi sosial, bermain, mengembangkan kreativitas, dan sebagainya.
Pada tahap selanjutnya ia menjadi kurang percaya diri, tidak percaya pada lingkungan, mood-nya sering berubah menjadi negatif karena muncul rasa benci, kesal, marah, akibat diperlakukan tidak menyenangkan.
Nah, masalah lainnya, orangtua terkadang seolah mendukung apa yang dilakukan orang lain tersebut terhadap diri si kecil. Padahal sebenarnya anak ingin berlindung pada orangtua.

Menolak halus
Untuk menghindari perlakukan seperti ini, mau tak mau kita mesti mewaspadai atau menjaga jarak begitu melihat orang lain yang tampak gemas pada si kecil. Coba alihkan keinginan orang itu menjawil pipi si kecil dengan mengatakan, "Eh Sayang, Tante ini mau salaman sama kamu, ayo salamnya bagaimana?"
Kalaupun si kecil mulai merasa tak nyaman dan rewel, katakan pada orang itu, "Oh, Tante, dia maunya dibelai, enggak mau dicubit-cubit." Jadi kitalah yang memberitahu orang itu secara halus untuk tidak mencubit, menggelitik, dan menggoda model lainnya karena si kecil tak menyukai hal tersebut.
Kalau orang tersebut tetap tampak melampiaskan kegemasannya, sebaiknya segeralah beranjak dengan alasan seperti, "Nak, waktunya makan siang ya. Yuk, pulang dulu. Dadah sama Tante ya, bilang mau pulang dulu ya, Tante."
Orangtua memang perlu mengantisipasi dampaknya, sehingga jangan sampai si kecil tak mau berinteraksi gara-gara takut atau trauma akibat dicubit, digelitiki, dan sebagainya. Lantaran itu, ungkapan rasa gemas sebaiknya tidak terlalu ekspresif sehingga bisa menyakiti si kecil. Tunjukkan saja dalam bentuk belaian, usapan, atau sekadar senyuman dan kata-kata. Misalnya, "Aduh, lucunya kamu. Tante suka deh sama rambutmu yang kriwil-kriwil."

Dengan cara yang tidak berlebihan seperti itu, anak dan orangtua dapat menangkap kesan bahwa segala sesuatunya berjalan terkendali sehingga aman dan nyaman. Perkembangan psikis si batita pun tidak terganggu karena ia tetap merasa aman, nyaman, terlindungi, dihargai, dan bisa percaya diri karena emosinya stabil.
Selain itu orangtua juga perlu memberi rasa tenang pada si batita bahwa orang yang hendak berinteraksi dengannya itu dapat memberikan rasa aman dan nyaman, serta dapat dipercaya. Beritahu bahwa orang itu hanya mau mengenal namanya. Dengan begitu si kecil yakin orang itu takkan melakukan sesuatu yang menyakitkan hanya karena gemas.

Narasumber: Wanda Anastasia, MPsi, psikolog dari LangkahKu dan Klinik Pela 9

Rabu, 17 Juli 2013

Vampire Knight Destiny, Episode 7 : Uncovered Mysteries

“Kurenai? Apa kau yakin?”. Zero mengangguk. “Dia sendiri yang memberitahuku”. Kepala sekolah kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Aku berfikir kenapa nama belakangnya tidak ada di kertasnya?”. Zero memegang lehernya. Kepala sekolah melihat ke arahnya. “Ada apa Zero? Apa lukamu sakit lagi?”. Zero menatap ke arah kepala sekolah, sebelum menurunkan tangannya. “Tidak...”. Kepala sekolah melompat berdiri. “Aku tahu, kamu laparkan!”. Kepala sekolah menarik kerahnya turun sehingga lehernya tidak tertutupi. “Kalau kamu ingin darah...” Zero menutupi wajahnya dengan tangannya. “Aku baik-baik saja, sungguh”. Kepala sekolah menoreh. “Tidak apa-apa Zero. Aku tidak keberatan”. Zero berbalik untuk keluar. “Zero, kau butuh ini, kau...” Sebelum kepala sekolah menyelesaikan kalimatnya, Zero memukul kepala Cross Kaien, dan melemparnya ke dinding yang ada di belakangnya. “Aku bilang, aku tidak butuh itu!”. Kepala sekolah memegang kepalanya. “Kamu tau, itu kedua kalinya kamu melakukan hal itu padaku”. Zero menghembuskan nafasnya. “Kau tau, itu kedua kalinya kau menawarkan darahmu padaku”. Zero berbicara dengan pikirannya sendiri tentang meminum darah kepala sekolah. Kepala sekolah berpegangan pada meja untuk berdiri. “Bagaimana kamu bisa bertahan hidup tanpa darahku? Yuki sekarang sudah pergi, dan kamu tau kalau kamu tidak bisa minum tablet darah”. Zero berjalan keluar. “Hey! Zero! Aku berbicara padamu!”. Kepala sekolah berjalan ke pintu, Zero sudah menghilang. “Oh! Ini kedua kalinya dia menghilang. Bagaimana dia bisa secepat itu?”

Zero terjatuh di koridor. Kepala sekolah benar, aku butuh darah. Tanda Zero mulai berdenyut sekali lagi. Dia mencoba untuk tidak menghiraukannya, tapi rasa sakitnya bertambah parah sampai menjalar ke lututnya. Chiyo berada beberapa meter di depannya. “Wah, kebetulan sekali, aku sedang berjalan untuk menemuimu Zero”. Mata Zero perlahan menatap mata Chiyo. “Aku tau kalau kamu sedang tidak sehat”. Zero kembali melihat ke bawah. Chiyo turun berdiri dengan lututnya dan menaikan wajah Zero sampai mata mereka bertemu sekali lagi. “Kamu harus belajar untuk mengontrol dirimu Zero”. Mata Zero menyala merah. “Kapan terakhir kali kamu minum darah?”. Zero menepis tangan Chiyo. Chiyo memegang kerah Zero dan mendorongnya ke dinding. “Kamu akan mati jika tidak melakukan sesuatu, dan aku tidak akan membiarkanmu mati”. Chiyo menatap mata Zero dan mulai berbicara. Zero menatap matanya dan melihatnya bercahaya biru gelap. Tidak peduli berapa kali dia mencoba, dia tidak bisa melepaskan pandangannya. “Dengarkan aku. Kamu tidak akan hidup tanpa darah. Ini satu-satunya yang bisa aku lakukan untuk menolongmu. Aku bukan vampir biasa. Aku adalah sesuatu yang mereka sebut dengan ‘original’. Aku adalah salah satu vampir terkuat. Jika kamu mengambil setetes darahku, kamu tidak akan terjerumus ke Level E”. Chiyo melepaskan kerah Zero, dia tidak berhenti menatap matanya. “Minumlah darahku Zero. Ini satu-satunya cara untuk mencegahmu berubah menjadi Level E”. Chiyo menarik rambutnya ke belakang dari leher kanannya dan menyodorkan ke depan. Zero melihat leher Chiyo. Tubuhnya gemetar karena lapar. Dia mencoba untuk menolak tapi sia-sia. Taringnya menembus leher Chiyo. Dia tersenyum, bahagia karena Zero akan baik-baik saja. Zero hanya mengambil apa yang dia inginkan. Chiyo menutupi lehernya dengan tangannya dan menutupi darahnya. “Sekarang kamu tidak akan berubah menjadi Level E”. Chiyo menyingkirkan tangannya dari leher dan menyeka darah terakhir. Zero terkejut. Bekas gigitan menghilang sekejap. “Sebagai Original, luka di tubuhku akan sembuh dengan cepat. Satu-satunya cara untuk membunuh Original adalah menusukan pedang pemburu vampir ke jantungnya”. Chiyo menjilat darah yang ada di tangannya. “Saat aku mati, kamu akan menjadi original. Hanya ada satu original di dunia ini dalam satu waktu”. Zero menyeka darah yang ada di wajahnya. “Kenapa, kenapa kamu ingin aku hidup?”. Chiyo berdiri. “Karena kita berbagi darah dan aku ingin memilih seseorang untuk meneruskan gen originalku. Itu alasan kenapa aku datang ke academy ini Zero”. Chiyo mengulurkan tangannya untuk membantu Zero berdiri. Menghindari penghinaan, Zero menolak dan berdiri sendiri. “Aku harap besok bisa bertemu denganmu Zero. Aku ingin memberitahumu tentang siapa aku, dan aku akan memberitahumu masa depan apa yang ada untukmu”. Zero diam sesaat. “Besok malam, temui aku di taman”. Chiyo mengangguk. “Aku akan menemuimu besok”. Dia berbalik dan pergi.

Keesokan hari pun tiba dan berlalu dengan cepat. Zero melihat keluar jendela untuk melihat matahari terbenam sebelum dia pergi ke taman. Chiyo duduk di air mancur menunggu Zero dengan buku di tangannya. “Senang bertemu denganmu lagi, Zero. Bagaimana kabarmu?”. Zero berdiri di depannya. “Baik, aku rasa”. Chiyo tersenyum. “Bagus! Sekarang aku membawakanmu beberapa buku tentang aku”. Dia meletakkan setumpuk buku ke tangan Zero. “Apapun yang tidak aku sebutkan, kamu akan menemukannya saat membaca buku itu”. Chiyo memegang batu pondasi air mancur di sampingnya untuk membantunya berdiri. “Kamu tau, saat aku bilang kalau kekuatan kita bergabung, kita dapat mengalahkan darah murni?”. Zero meletakkan buku-buku itu disampingnya dan mengangguk. “Aku tau kamu punya dendam kepada Kaname, dan aku tau satu hal tentang dia yang mungkin kamu tidak tau”. Zero memandang Chiyo. “Kaname, sebagaimana yang kamu tau, adalah kakak Yuki”. Zero menunduk dan ekspresi Zero berubah menjadi marah. Chiyo melanjutkan. “Kamu juga tau kalau Yuki dikurung oleh ibunya agar tidak berubah menjadi darah murni. Kenapa ibunya ingin dia tetap menjadi manusia? Maksudku, darah murni hampir tidak bisa dihancurkan”. Ekspresi Chiyo juga berubah menjadi marah. “Itu karena darah murni adalah binatang buas! Mereka adalah ancaman bagi para vampir. Kami mematuhi mereka karena mereka pikir ada di ranking teratas”. Zero tersenyum dan mendongakan kepalanya. “Aku tidak bisa setuju lagi, mungkin kita harus bersama”. Chiyo juga tersenyum. “Aku tau kamu juga menginginkan Yuki, apa aku benar?”. Senyum Zero lenyap. “Jadi kita membutuhkan sedikit latihan, tapi dengan latihan, kita bisa menundukkan mereka berdua”. Chiyo mendekati Zero sampai mata mereka bertemu. “Kita bisa berlatih sekarang, atau kalau kamu tidak mau, kapan-kapan kita bisa berlatih”. Zero menggelengkan kepalanya. “Aku cuma ingin tau satu hal”. Chiyo mundur selangkah. “Silakan”. Zero memegang tandanya sekali lagi. “Bagaimana kamu mengontrol rasa sakit?”. Chiyo tersenyum. “Aku hanya mematikannya. Aku seorang original, ini agak sulit bagimu. Bagaimanapun aku punya kekuatan untuk menghentikannya agar tidak mengganggumu”. Zero terlihat tertarik. “Mengendalikan pikiran, kamu bisa melakukan itu”. Zero berjalan mendekati Chiyo dan memegang tangannya. Chiyo memegang wajah Zero, menatap dalam ke matanya. “Kamu tidak akan merasakan sakit. Sensor yang mengirimkan pesan ke otakmu tentang rasa sakit akan ditutup”. Chiyo membiarkan tangannya jatuh lagi, hening sesaat, kemudian Chiyo melingkarkan lengannya ke Zero. Dia mendorong Zero sampai terjatuh dan menyambungkan kedua tanda itu. Zero juga melingkarkan lengannya ke Chiyo. Sambungannya terjadi beberapa detik, tapi terasa seperti sehari penuh. Setelah selesai, Chiyo menurunkan tangannya  dan menatap Zero. Zero juga melepaskan tangannya saat dia menatap ke arah Chiyo. “Ini keren, bukan”. Zero mengangguk. “Cobalah”. Chiyo melihat sekeliling untuk mencari sebuah objek. Dia melihat sebuah vas bunga. Dia berkonsentrasi sampai vas itu pecah berkeping keping. Dia tersenyum dan melihat ke arah Zero. “Konsentrasilah apa yang ingin kamu lakukan”. Zero melihat sekeliling sampai dia menemukan vas bunga yang lain. Dia berkonsentrasi sampai vas itu juga pecah berkeping keping. “Kamu belajar dengan cepat, Zero”. Zero berbalik ke arahnya. “Jika kita menggunakan kekuatan ini kepada darah murni, apakah mereka...” Chiyo mengangguk. “Meledak hingga berkeping keping, tapi aku takut kamu tidak bisa melakukannya sendiri, kamu butuh dua orang jadi kekuatannya akan berlipat menjadi empat kali lipat”. Zero mengambil pecahan batu. “Ini terlihat mudah untuk dilakukan, tapi kita butuh latihan lagi sebelum kita pergi untuk melawan darah murni”. Chiyo berjalan dan membantu untuk mengambil batu. Mereka berlatih dengan berbagai macam objek sampai tengah malam. “Cukup untuk malam ini, kita bisa berlatih di lain hari”. Chiyo mengangkat tas sampah yang besar yang berisi pecahan-pecahan dan mulai berjalan. Zero mengambil bukunya sebelum dia mengingat sesuatu. “Oh Chiyo”. Dia berhenti dan menoleh ke belakang. “Ya?” Zero berjalan ke arahnya. “Apakah kamu bersaudara dengan Maria Kurenai?”. Dia meletakkan tas itu ke tanah. “Ya. Kenapa?”. Chiyo berbalik ke arah Zero. “Apakah kamu tau kalau Maria ada disini?”. Chiyo mengangguk. “Aku sudah menunggu untuk menemuinya, tapi aku tidak tau dimana kepala sekolah menyembunyikannya”. Chiyo menganggkat tas sampahnya lagi. “Aku bisa membawamu untuk menemuinya besok jika kamu mau”. Chiyo mengangguk. “Aku rindu adik kecilku”.

Tunggu episode 8 : Reunion

Vampire Knight Destiny, Episode 6 : Don't Be Afraid Of Me

Kepala sekolah Cross duduk terdiam di mejanya, membaca riwayat hidup Chiyo. Jika hari ini dia menjadi murid Night Class, jadi dia harus membaca semua datanya. Semuanya memenuhi standart, kecuali satu. Kenapa dia tidak menulis nama belakangnya? Kepala sekolah meletakkan halaman terakhir di atas tumpukan. “Aku harus pergi memberitahu Zero kalau ada murid baru, dia akan mengantarnya berkeliling”. Kepala sekolah memanggil salah satu murid Day Class untuk mencari Zero, tapi gadis itu tidak cepat kembali. Kepala sekolah menjadi tidak sabar. “Oh, aku akan pergi dan mencarinya sendiri”. Kepala sekolah berjalan keluar sambil menggerutu kepada dirinya sendiri.

Zero duduk di tepi kasurnya, melamun. Bagaimana bisa aku bahagia? Berapa lama lagi aku seperti ini? Lamunan Zero buyar karena pintu kamarnya terbuka. “Zero! Aku punya berita bagus”. Zero melihat kepala sekolah yang sedang berdiri menggunakan gaun berwarna pink dengan gambar kucing sedang tidur. Zero menghembuskan nafas. “Apa yang kau lakukan disini? Apa aku tidak punya kebebasan pribadi lagi?”. Ekspresi kepala sekolah menjadi innocent. “Aku menyuruh murid Day Class untuk kesini sebelumnya tapi dia tidak kembali, jadi aku harus datang dan mencarimu sendiri”. Zero menutupi wajahnya dengan tangannya. “Bisakah kau berubah sedikit?”. Kepala sekolah menunjukan tanda damai dengan jarinya. “Awww.. Tapi ini lucu.. Kenapa kamu tidak suka?”. Zero melihat kearah kepala sekolah. “Bagaimana bisa kau menyukai hal seperti itu?”. Kepala sekolah menundukan kepalanya. “Sebenarnya bukan itu alasan aku kesini. Ada murid Night Class baru yang datang hari ini. Aku ingin kamu bertemu dengannya jam 9:30 di kantorku. Kamu harus membuatnya merasa terbuka”. Zero tidak bergerak. “Aku kira aku akan bertemu denganmu nanti, daa Zero!”. Kepala sekolah keluar dan menutup pintu. Zero menghembuskan nafas lagi dan menjatuhkan diri ke kasur.

Kepala sekolah melihat jamnya. 9:28. Zero seharusnya sudah disini dan juga gadis baru itu. Kepala sekolah meletakkan polpennya ke meja dengan tidak sabar. Akhirnya, ada ketukan pintu. Kepala sekolah menyeringai dan membuka pintu. Di depan pintu berdiri Chiyo yang melihat kebawah. “Hai Chiyo, aku kepala sekolah Cross”. Chiyo tidak mengucapkan satu katapun. “Kamu sangat pemalu ya?”. Kepala sekolah duduk kembali di kursi belakang mejanya. “Jadi Chiyo, aku punya seorang anak lelaki yang akan mengantarmu berkeliling untuk melihat sekolah, namanya Zero”. Tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk. “Ah, tepat sekali Zero, masuklah. Aku ingin kau bertemu dengan Chiyo”. Zero mengulurkan tangan ke Chiyo, tapi dia tidak bergerak. Zero menarik lagi tangannya. “Chiyo, jika kamu punya pertanyaan, tanyakan saja pada Zero”. Dia berbalik dan melihat Zero untuk pertama kalinya. Zero mundur selangkah karena terkejut. Matanya! Chiyo melihat leher Zero dan tersenyum. “Senang bertemu denganmu Zero”. Chiyo berjalan keluar meninggalkan Zero yang masih mematung. Kepala sekolah berdeham. “Um, Zero, aku pikir Chiyo sudah pergi, mungkin kamu harus pergi dengannya?”. Zero menggelengkan kepalanya dan kembali ke realita. “Tentu”. Zero berbalik dan mengikuti Chiyo.

Chiyo mengikuti di belakang Zero. “Ini adalah Day Class. Semua manusia sekolah disana. Ini adalah kelasmu”. Chiyo melihat ke arah kirinya. “Dimana asramaku?”. Zero mulai berjalan lagi. “Kamu tidak punya asrama. Kamu murid Night Class, kamu tidak tidur kan?”. Chiyo menggelengkan kepalanya. “Aku vampir baru, aku lupa”. Zero menghembuskan nafas dan mulai berjalan. “Jadi, bagaimana kamu dapat tanda di lehermu Zero?”. Zero menutupi tanda di lehernya dengan tangan. “Hanya tato”. Chiyo berhenti berjalan. “Jangan bohong padaku”. Zero berhenti dan berbalik menghadapnya. “Kamu dapat itu dari Shizuka kan?”. Zero terkejut. “Bagaimana kau tau?”. Chiyo tersenyum. “Aku punya kekuatan spesial. Ingat saat aku menatapmu pertama kali di kantor pagi ini? Itu hanya sekilas dan aku tau semuanya”. Chiyo memegang lehernya, menyingkirkan rambut panjangnya ke belakang, ada tanda seperti milik Zero. “Jadi aku sama sepertimu”. Zero melihat tanda itu. “Shizuka Hiou menggigitku saat aku kecil, sama sepertimu,  dan sama juga sepertimu aku baru di dunia vampir ini”. Zero menggelengkan kepalanya. “Aku tidak baru di dunia ini”. Chiyo tertawa. “kamu pikir kamu vampir yang berpengalaman? Kau pasti bercanda”. Zero menunduk. “Apa kamu tau Zero gunanya tanda ini?”. Chiyo melangkah mendekati Zero. “Apa kamu tau apa yang akan terjadi saat ada dua orang yang memiliki tanda yang sama?”. Chiyo terus berjalan sampai bertatap mata dengan Zero. Zero menatap mata Chiyo yang mempesona. “Ini terjadi”. Chiyo melingkarkan lengannya ke leher Zero dan menariknya untuk mendekat. Kedua tanda itu tersambung. Zero merasakan setruman diseluruh tubuhnya. Matanya melebar. Chiyo juga merasakannya. Untuk beberapa saat mereka tetap seperti itu, kemudian Chiyo melepaskan Zero. Zero berdiri sambil memandang Chiyo. “Apa... yang baru terjadi?”. Chiyo tersenyum. “kita baru saja terhubung, Zero. Sekarang kita punya kekuatan yang menjadi berlipat ganda dari biasanya. Bersama-sama, dengan kekuatan ini bisa menjatuhkan darah murni”. Zero melihat ke tanda di leher Chiyo. Tanda itu menyala merah. Dia memegang tanda di lehernya dan tanda itu berdenyut. Chiyo meletakkan tangannya ke leher Zero. “Di saat seperti ini, kekuatan kita mengalir satu sama lain, menguatkan kita”. Chiyo menyingkirkan tangannya dari Zero. “Jika aku jadi kamu, aku akan pergi untuk beristirahat, karena jika ada seseorang yang muncul di dekatmu di saat seperti ini, mereka tidak punya banyak kesempatan”. Chiyo berbalik dan pergi meninggalkan Zero yang berdiri karena terkejut. Tiba-tiba dia berhenti seperti lupa untuk mengatakan sesuatu, kemudian dia memutar kepalanya dan mengedipkan mata ke Zero. “Oh iya, aku lupa. Karena kita terjalin dalam kontrak, sekarang kita menjadi kakak-adik, walaupun kita tidak berhubungan”. Dia berbalik dan mulai berjalan lagi. “Oh, dan bilang kepada kepala sekolah jika dia tidak bisa menemukan nama belakangku di dokumen, nama belakangku adalah Kurenai”.

Tunggu episode 7 : Uncovered Mysteries

Vampire Knight Destiny, Episode 4 : Watch Out!

Aidou mengambil jaketnya dari gantungan. “Kita harus menemuinya”. Ruka mengikuti dibelakangnya. Kaname mengambil jaketnya dan berjalan keluar pintu dimana Yuki masih terdiam di tempatnya. Di saat Kaname sadar bahwa Yuki tidak bergerak, dia berhenti. “Ada apa Yuki? Kenapa kamu tidak ikut?”. Pandangan Yuki mengarah ke bawah. “Ichijou adalah salah satu teman dekatmu kan? Jadi bagaimana mungkin kamu pergi dan menemuinya disaat hidupnya sedang di ambang kematian?”. Hening sejenak, kemudian Kaname berbicara. “Jika dia salah satu teman baikku, maka aku akan datang dan membuatnya nyaman, bukan begitu?”. Mata Yuki bertemu dengan Kaname. “Aku rasa kamu benar”. Kaname sadar bahwa Yuki tidak ingin pergi dan menemui Ichijou. “Kita bisa tetap tinggal jika kamu mau, Yuki. Aku bisa pergi untuk menemuinya lain kali”. Yuki menggelengkan kepalanya. “Tidak Kaname, aku menjadi egois lagi. Kamu pergi dan temui dia. Aku akan tetap disini dan menunggumu”. Yuki menatap ke bawah. Dia tahu bahwa Kaname tidak menyukai ide itu. “Dan meninggalkanmu disini sendirian? Aku tidak akan pernah melakukan hal itu padamu”. Yuki memejamkan matanya dengan ekspresi marah. “Aku bukan anak kecil lagi Kaname. Aku bisa menjaga diriku sendiri! Aku tidak membutuhkanmu untuk melindungiku setiap saat!”. Teriakan Yuki tidak mempengaruhi Kaname. “Yuki..”. Yuki mengangkat kepalanya dan menatap mata Kaname. “Tolong Kaname. Aku cuma ingin bebas. Aku sudah menjadi penjaga di Cross Academy sepanjang hidupku. Aku bisa menangani vampir”. Kaname menghembuskan nafasnya. “Yuki, kamu tidak menyadari seberapa berbahayanya vampir, terutama level E”. Yuki menghentakkan kakinya. “Aku sudah pernah menghadapi Rido kan?”. Kaname meletakkan tangannya diwajahnya. “Baiklah, kamu bisa tinggal disini. Aku akan meninggalkan  telponku padamu. Jika kamu ada masalah atau merasa khawatir, jangan sungkan untuk meneleponku”. Yuki tersenyum. “Tentu”. Kaname menutup pintu di belakangnya dengan ekspresi khawatir. “Mana Yuki?”. Aidou mencari. “Dia tidak ikut”. Ruka berdiri “aku akan tinggal bersamanya jika anda mengizinkan, Kaname”. Kaname terdiam sejenak “Ruka, aku senang jika kamu mau tinggal dan awasi rumah dari jarak yang aman”. Ruka membungkukan badan dan pergi.

Aidou dan Kaname tiba di rumah sakit. Mereka dipandu menuju ruang  tunggu, dan di pintu masuk mereka melihat Shiki, Rima dan Kain. Ketiganya langsung berdiri dan membungkuk. “Tuan Kaname. Aku rasa anda juga mendengar kabar itu?”. Kaname duduk di kursi yang paling dekat dengannya. “Ya. Aku sangat menyesal mendengarnya seperti ini, tapi aku senang dia masih hidup”. Rima menyadari ada sesuatu yang hilang. “Mana Yuki?”. Kaname mengusap rambutnya saat dia berbicara. “Dia memutuskan untuk tetap di rumah tapi aku punya Ruka yang menjaganya dan dia akan baik-baik saja”. Semuanya duduk dan menunggu dengan sabar untuk bertemu dengan Ichijou. “Aku membayangkan seberapa parah cideranya?”. Shiki membayangkan berharap dia membuat keputusan yang benar. “Mereka bilang dia sedang diambang kematian”. Aidou menjawab dengan nada khawatir. Tiba-tiba seorang suster berjalan ke ruang tunggu. “Takuma sudah siap untuk bertemu dengan kalian. Dia punya cidera yang parah tolong jangan disentuh”. Suster itu menuntun mereka menuju ruangan Ichijou. Ichijou berbaring tak berdaya di kasurnya dengan berbagai macam peralatan dari tubuhnya. “Kedua lengannya patah, kaki kanannya patah, tiga rusuk patah, pembuluh nadinya sobek dan retak di tengkorak kepalanya. Kami tidak yakin bahwa dia dapat selamat”. Suster meninggalkan mereka yang berdiri dalam keadaan kaget. Aidou mendekat dan duduk di kursi sebelah kasur. “Ichijou..”. Matanya mulai basah karena airmata. Rima dan Shiki masih berdiri tak berdaya setelah mendengar apa yang dikatakan oleh suster sebelumnya. Kain berjalan ke arah Aidou untuk mengusap airmatanya dan Kaname masih berdiri dengan ekspresi kosong. Mereka tetap seperti itu sampai beberapa saat.

Yuki senang karena akhirnya dia bisa sendirian tanpa ada Kaname yang mengawasinya setiap saat. Walaupun sekarang dia bebas, dia sangat tahu kalau harus selalu berjaga. “Aku pikir aku harus mulai membuat undangan”. Yuki berjalan ke meja dimana ada setumpuk undangan. “Banyak sekali. Aku harus menulis catatan untuk Kaname kalau aku tidak pulang tepat waktu”. Yuki berjalan ke jendela dimana ada polpen yang diletakkan di dalam gelas. Disaat mengambil polpen, sesuatu yang ada di luar menarik pandangannya. Itu ada di pohon. Dia mencoba untuk fokus sampai dia tahu siapa yang ada diluar. Itu Ruka. “Ruka? Kenapa dia... oh, Kaname meninggalkan dia disini. Kenapa dia tidak bisa percaya padaku?! Aku bisa menjaga diriku sendiri”. Yuki mengambil gelas dan membantingnya. Gelas itu pecah berkeping-keping dan mengenai Yuki. Dia tidak percaya kalau Kaname tidak mempercayainya. Yuki mengambil undangannya dan tasnya dan kabur melalui pintu belakang, dia tidak menulis surat ataupun membawa telponnya. Dia berniat untuk melewati Ruka dan sekali dia berhasil, tidak ada yang bisa menghentikannya. Dia tidak peduli dengan apapun, dia hanya berfikir betapa marahnya dia dengan Kaname. Yuki berhenti di bangku taman untuk mengatur nafasnya. Dia mulai membaca undangannya. “Kaien Cross”. Yuki berfikir bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk mengunjunginya, ini sudah seminggu sejak ia melihatnya. Dia merapikan undangannya dan memasukan ke dalam tas lagi. Dia berjalan menuju Cross Academy tapi saat dia sudah tiba di depan gerbang dia membeku. Bagaimana jika aku bertemu dengan Zero? Bagaimana jika orang-orang melihatku dan  bertanya kenapa aku tidak disini lagi?  Yuki menoleh ke arah kanan dan melihat kotak surat.  Dia memasukkan undangan ke kotak surat,  begitu juga dengan undangan untuk Sayori. Dia menyesal karena tidak bisa menemui ayahnya tapi dia juga tidak bisa mengambil resiko. Tiba-tiba undangannya terjatuh dari tas dan berhamburan dibawah.  Yuki berjongkok dan mulai memunguti undangan-undangan tersebut. Seorang gadis berjalan melewatinya dan menawarkan untuk membantu. Yuki melihat bayangan gadis itu dan langsung menjatuhkan undangannya dan bersiap dengan posisi bertahan. Gadis itu mundur selangkah. “Aku tidak akan menyakitimu, aku hanya berfikir kalau kamu membutuhkan bantuan”. Yuki mengawasi gadis itu dan melihat sepatunya. Dia menggunakan sepatu warna hitam, dengan stocking menutupi kakinya dan menggunakan seragam sekolah. Rambutnya yang panjang berwarna silver menyentuh hingga bagian tengah punggungnya. Yuki menatap matanya. Matanya sangat cantik dengan warna biru. Yuki tidak berhenti untuk menatap matanya, dia terpesona. “Apa kamu yakin tidak membutuhkan bantuanku?”. Gadis itu terlihat innocent, dan dia tidak membawa senjata, hanya buku. “Maaf aku menatapmu seperti itu, ya aku butuh bantuan”. Gadis itu meletakkan bukunya di tanah di belakangnya dan mulai membantu Yuki. Gadis itu membantu Yuki memasukkan undangan ke tas Yuki. “Aku Chiyo”. Gadis itu tersenyum kepada Yuki. “Senang bertemu denganmu, Chiyo. Aku Yuki. Terimakasih bantuannya, aku menghargainya”. Yuki tersenyum. “Hey, apakah kamu membutuhkan bantuan lain untuk mengantar undangan itu? Aku baru saja selesai sekolah dan tidak ada kegiatan lain untuk dilakukan”. Yuki sedikit ragu tapi gadis itu memperlakukan Yuki seperti semut daripada singa. “Jika kamu tidak keberatan, aku butuh teman”. Gadis itu tetap tersenyum dan mengambil setengah undangan dari tas Yuki.

Kaname dan Aidou sudah tiba di rumah. Aidou menunjuk Ruka di atas pohon mengawasi rumah seperti elang. Kaname menyarankan kepada Aidou untuk tetap berjalan saat ia ingin menghampiri Ruka. Ruka tidak pengalihkan pengawasannya dari rumah. “Ruka, terimakasih sudah mengawasi rumah. Aku senang kamu mengawasi Yuki untukku”. Ruka tersenyum sambil memegang tangan Kaname yang membantunya turun. Sebelum Ruka berbicara, Aidou datang berlari kearah mereka. “Kaname.. Kaname!”. Aidou mengatur nafasnya. “Ada apa, Aidou?”. Ruka tiba-tiba menjadi sakit jika terjadi sesuatu yang salah. “Yuki.. Yuki hilang!”. Kaname memejamkan matanya dan mengepalkan tangannya. ”Aku tahu ini akan terjadi”. Kaname berbalik dan lari ke dalam rumah.

Tunggu episode 5 : New Commer.

6 Makanan yang Memutihkan Gigi

Semua pasti ingin memiliki gigi putih cemerlang, namun tak semua punya uang untuk memutihkan gigi di dokter atau dengan cairan pemutih gigi yang mengandung efek samping. Padahal gigi putih bersinar juga bisa didapatkan dengan mengonsumi lima makanan berikut ini.

1. Stroberi
Buah cantik ini memproduksi enzim malic acid yang membantu memutihkan gigi. Selain dengan langsung memakannya, stroberi bisa dimanfaatkan untuk memutihkan gigi dengan cara dihaluskan, digosokkan ke gigi, diamkan selama lima menit lalu bilas dan gosok gigi seperti biasa.

2. Buah-buahan dan sayuran yang renyah
Contoh terbaik adalah apel, seledri, dan wortel. Menggigit dan mengunyah buah dan sayuran seperti ini akan membantu membersihkan plak, "menggosok" gigi agar lebih putih bersinar, dan meningkatkan produksi air liur yang baik bagi kesehatan mulut.

3. Keju
Keju dan bahan olahan susu lainnya seperti yoghurt mengandung lactic acid yang berfungsi melindungi gigi. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang mengonsumsi yoghurt empat kali seminggu lebih terlindung dari pembusukan gigi dibanding anak-anak yang tak minum yoghurt. Sedangkan untuk memutihkan gigi, keju adalah pilihan yang baik karena selain melindungi gigi dari kebusukan, keju juga mengandung kalsium dan fosfor yang berguna dalam pembentukan enamel gigi.

4. Jeruk dan nanas
Saat mengonsumsi jeruk, nanas, dan buah-buahan asam lainnya, mulut memproduksi air liur lebih banyak, yang membantu membersihkan gigi secara alami.

5. Baking soda
Sebuah penelitian tahun 2008 menemukan bahwa pasta gigi yang mengandung baking soda berfungsi lebih baik dalam membersihkan plak. Anda bisa saja menggunakan baking soda langsung untuk membersihkan gigi, namun para dokter menyarankan agar hal ini tak dilakukan terlalu sering karena bisa mengikis enamel gigi. Pilihan paling aman adalah menggunakan pasta gigi yang mengandung baking soda.

6. Permen karet yang mengandung xylitol
Xylitol adalah pemanis alami yang dapat mencegah plak. Xylitol juga menetralkan tingkat keasaman di dalam mulut dan meningkatkan produksi air liur untuk membersihkan gigi.

Ohisashiburi~

sudah lama gak pernah ngepost di blog ><
semuanya, bagaimana kabar kalian??

sepertinya blog ini akan kembali menjadi blog dimana cerita harianku bakal aku jabarin disini. karena sejak pertama blog ini aku buat, memang berniat sebagai harian online. tetapi karna ada tugas blog, dari pada bikin baru, mending tambahin aja postingannya.. dan curhatan sebelumnya, terpaksa aku hapus ^^

oke.. tak terasa sudah 6 tahun berlalu sejak blog ini aku buat.. dan sekarang, aku sudah tidak berada di bangku SMP maupun SMA.. aku sudah besar, menjajaki kedewasaan diri.. aku masuk kampus, kuliaaaaaahh...

benar-benar, hidup itu cepat sekali berlalu.. seperti waktu, pagi-malam dan seterusnya.. sekarang aku juga sudah umur 19.. waktunya menjadi sosok yang dewasa.. tidak hanya dalam bicara tapi aku juga akan berusaha dalam bertindak xD

apalagi sekarang kuliah. kudu siap bolak-balik sidoarjo-surabaya karna aku ngampus di untag. belum resmi sih, kan belum ospek. hehe. tapi dah ketrima disana ^^ aku ambil jurusan sastra jepang. sebelumnya aku dah les privat. sekarang hampir setahun, hmm, 8 bulan aku les. tak terasa, sangat tak terasa.

hari ini, sekitar 1-2 bulanan setelah graduated, aku masih berstatus pengangguran. keseharian hanya online. itu pun sibuk dengan dunia maya [yaiyalah, namanya juga online]. kerjaanku berhenti di tengah jalan karna aku gak ada alat untuk proses pengerjaan.

aku harus cari kerja, tapi kerja apaan?? aku males ikut percetakan, karna aku males desain. wkwk. aku pingin punya percetakan sendiri aja. tapi cuma melayani pin, stiker. hanya seperti itu. simple. atau sablon kaos, mungkin. masuk kuliah, aku harus gabung dengan komunitas itu. apalagi yang beraliran jepang. enak tuh kalau ada bunkasai. wkwk.

sudah, gini aja deh.. ini hanya sebagai post pembukaan setelah sekian lama tak menulis.. mungkin suatu hari nanti, aku akan ngepost cerpen karyaku yang sampai sekarang gak beres-beres karna saya malas mengerjakannya.. hahahaha... udah yaa... byeeeee---

お客様

私のミュージック